Label

Kamis, 20 Juni 2013

d i a m





Kapan kau berhenti jadi fatamorgana? kenapa kau tak mewuj6d saja. Hingga nyata. Keluar dari cakrawala.

Jawaban semua kapan adalah waktu.
Ku buka koleksi arloji di laci kepala, kubenahi satu peesatu,
mungkin ada yang salah, pada semua detikku.

Aku pergi, kau  diam.
Kau melangkah mundur, aku mendekat.
Kau maju, aku sembunyi.
Bisakah kita saling diam sebentar?
Sejenak saja.

Lebih baik aku berteman dengan ribuan teriakan dari jutaan jendela,
dibanding bersembunyi dalam ruang hampa tak berpintu.

Ketika malam jatuh ke mataku,
ada keheningan yang menjadi saksi,
bahwa dalam diam aku masih mendoakanmu.
Dan dalam diam, ada seseorang juga yang mendoakanmu.



Senin, 10 Juni 2013

Muhasabah

Kuperhatikan ahli ibadah, ia lelah dan menangis
Tapi rasa nikmat dan pancaran ketenangannya tak habis-habis.

Lalu kuperhatikan diriku ini
berburu senang dalam dosa mencari tawa dalam sia
Tapi pedih dan gelisah yang terasa

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu masih mengandalkan makhluk- membanggakan ilmu- dan bertawakkal pada diri?


"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu mengabaikan perintah Nya - mempertanyakan aturan Nya - meragukan hukum Nya

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu merasa aman mendurhakai Nya - tenang saja bermaksiat - dan menikmati dosa-dosa

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu patah arang dalam susah - putus asa pada taqdir - menyerah kala diuji

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu penuh buruk sangka - membanding-bandingkan anugerah - dan meremehkan karunia

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Sungguh ibadahmu tak cukup membayar rizqi-Nya
dan usahamu pun tak sebanding karunia Nya

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Merasa doamu tak dijawab padahal berlimpah yang diberikan Nya tanpa kau minta

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu takut menyampaikan yang benar dan mencari ridho manusia dengan murka Nya

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu dunia lebih kau pentingkandari akhirat - 
yang fana kau utamakan  dari keabadian

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu harta terlihat kemilau - tahta tampak megah - dan hidup melalaikanmu dari hisab Nya




Rabu, 03 April 2013

I can see the first leaf falling
It's all yellow and nice
It's so very cold outside
Like the way I'm feeling inside

I'm a big-big girl in a big-big world
It's not a big-big thing if you leave me
But I do feel I will miss you much
Miss you much.

dunia


kenapa kita sangat mencintai dan terikat kepada dunia ini padahal kita akan segera meninggalkannya dalam beberapa puluh tahun kedepan?

Jawabannya mudah, namun sebenarnya bukan jawaban itu yang menjadi inti renungan yang ingin saya ketengahkan malam ini.

Mari kita sejenak ajak jiwa kita kembali kemasa lalu, saat kita masih sering tertawa daripada merenungi masalah-masalah. saat kita masih bebas dan tidak terikat banyak belenggu yang menjerat kaki kita. saat itu kita mencintai ayah atau ibu kita, bahkan hingga saat ini ada yang masih menjaga cinta itu. Kemudian ketika kita beranjak remaja, cinta itu mulai berpindah, kita lebih mencintai seseorang yang mengerti perasaan kita. kita lebih mencintai seseorang yang benar-benar menjawab cinta kita.

Kenapa? Karena saat itu kita mulai memiliki 'kebutuhan' yang tidak bisa dipenuhi orang tua kita. yaitu syahwat. Jadi kita lebih mencintai 'pacar' atau seseorang yang kita 'kagumi', meskipun hal itu salah. Ketika kita beranjak dewasa, kita hampir benar-benar melupakan cinta kita kepada orang tua yang melahirkan kita, kenapa?

Karena kita menemukan kebutuhan yang mencekik kita, istri, anak dan banyak obsesi yang tidak bisa dipenuhi oleh orang tua kita. dan memang, tugas orang tua kita disana selesai. Kita telah bebas menentukan pilihan.

Cinta kepada orang tua dulu muncul karena mereka selalu memenuhi kebutuhan kita, namun ketika mereka tidak lagi memenuhi kebutuhan mereka dan kita tidak bergantung kepada mereka kemudian hati kita berpaling. ini tentu dirasakan kebanyakan orang, dan saya sangat yakin. Padahal tanpa orang tua, kita tidak akan ada. Pertanyaannya adalah, siapakah yang menciptakan orang tua dari orang tua kita dari orang tuanya lagi?

Siapakah yang memenuhi, menjaga dan menghidupkan orang tua dari orang tua kita dari orang tuanya lagi?

Jawabannya adalah Allah. Lalu kenapa kita tidak mencintai Allah dalam hati kita? Karena kita tidak menyadari bahwa Allah lah yang memenuhi kebutuhan kita.
Apakah benar demikian? Tidak perlu banyak energi untuk menjawabnya, baik itu menolak atau menerimanya. Ada saatnya kita jatuh sejatuh-jatuhnya, saat itu tak ada satu mata pun memandang kita haru. kita sangat sendiri dan banyak tamu yang berdatangan ke hati kita dan kita tidka bisa menolaknya; sedih, takut, putus asa bahkan kadang benci dengan kehidupan ini.



Benci kepada kehidupan ini artinya benci kepada penciptanya. Padahal Allah azza wa jalla menatapi semua mahluk ciptaan-Nya dengan senyum kerahmatan. Namun kita bahkan lupa, bahwa diatas sana masih ada satu senyum?

Sampai kepada kesimpulan pertama bahwa kita mengakui, bahwa kita tidak mencintai Allah saat kita mengeluhkan sesuatu tentang kehidupan ini. Kenapa? Karena kita tidak menyadari bahwa Allah telah memberi banyak hal untuk kita, padahal Allah lah penyebab kita masih hidup hingga saat ini untuk merasakan manisnya Iman dan lezatnya Islam.

Senin, 18 Maret 2013

Bunga Kehidupan

Keindahan demi keindahan yang menaburi hati kita disetiap pencapaian adalah bunga dari Al Haayaaati Dunia yang memang megah dan mempesonakan. Namun keindahan demi keindahan yang terselip cantik diantara kekecewaan dan kegagalan disetiap fase kehidupan adalah anugerah. Kesabaran adalah rezeki rohani yang akan kita temui disuatu hari yang kekal nanti.
Sementara kesedihan, kekecewaan, luka dan berbagai peristiwa yang membuat hati kita runtuh dan terjatuh adalah cerminan kadar cinta kita kepada dunia yang berlebih. Dimana kita lebih sakit dan kecewa ketika kehilangan kehilangan dunia yang suram fatamorgana ketimbang kehilangan akhirat yang abadi.
Seandainya kita tahu bahwa bunga digenggaman itu akan layu, maka kita tidak akan pernah memetiknya. Namun kebanyakan dari kita ingin segera menghisap harumnya dan mengabaikan kesedihan tangkai yang menyangganya, kesedihan daun daun rimbun yang mempercantik dan melindunginya dari sengatan matahari. Kesedihan putik-putik yang berharap akan menjadi buah dan menebar bunga-bunga lain dikemudian hari.





Jumat, 15 Maret 2013



Ingatlah
Bahwa Allah tak begitu saja menjadikan mu hadir dalam hidup ku
Pernahkah kau mengingat bagaimana cara Allah mempertemukan kita
Kau tahu, seandainya hari itu kita tidak saling kenal 
mungkin akan ada celah kosong tanpa warna mu

Bila suatu hari semua terhenti begitu saja
mungkin aku tak mampu menatap semua warna dengan bias yang sama.
Aku tahu terkadang kau pun letih 
hingga waktu membiarkan kita berada di sebuah persimpangan.
Pada saat itu aku berusaha meraba dalam kelabu.
sendirian saja, tanpa mu.
Namun kau tahu, sejauh apa pun ku coba mengusir bayang mu,
siluet mu tetap ada

Ketika suatu hari yang kau ingat hanyalah senyap tanpa bisingku yang lenyap berpacu dengan waktu,
maka rasakan lah bahwa aku masih disekitarmu, memandangmu.
Hanya saja selalu ada batas dalam sebuah perjalanan.


Angin menghembus
Bintang bersinar
Bulan terpaku
Awan berjalan
Malam mencekam
Lagu di putar
Lentera menyala
Kamu tak ada