Label

Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2016

Hatiku Selembar Daun

(Sapardi Djoko Damono)

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

            Puisi ini tersusun dalam bangunan diksi-diksi yang cukup sederhana dan cukup mudah pula untuk dipahami orang awam sekalipun. Namun diksi-diksi sederhana tersebut justru memiliki kelebihan dan segi makna. Dalamnya makna yang ingin disampaikan penulis lewat diksi sederhana menunjukkan kepiawaiannya dalam berpuisi.

            Bait pertama, penyair menganalogikan dirinya (hati) seperti selembar daun. Daun merupakan bagian terbanyak yang mengisi sebuah pohon, dalam konteks ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pohon tersebut adalah dunia tempat ia hidup. Sebanyak apapun manusia yang hidup di dunia, saat ia terjatuh pasti merasakan kesendirian seperti yang diutarakan penyair lewat diksinya. “melayang jatuh di rumput” merupakan simbol bahwa dirinya telah terbaring pada tempatnya berakhir (akan berakhir). Sebuah daun suatu saat pasti jatuh ke tanah, tanah tersebut merupakan tempat berakhirnya kehidupan si daun tersebut.

            Pada bait ke dua, seolah ada sebuah permintaan kepada orang lain agar dirinya diberikan sejenak waktu untuk berdiam, merasakan akhir dari jatuhnya daun tersebut. Jika di gabungkan dengan bait pertama, kedua bait tersebut seperti seseorang yang bertemu akhir hidupnya dan meminta sedikit waktu untuk terbaring mengingat semua yang pernah di alaminya. Dan benar, pada bait ke tiga, lewat diksi “ada yang masih ingin ku padang, yang selama ini senantiasa luput” seolah daun itu ingin merasakan sesuatu yang selama ia berada pada pohon selalu ia lupakan. Manusia tidak akan pernah merasakan udara, tapi ia baru tahu pentingnya udara saat udara itu tidak ada.

            Dalam bait ketiga menggambarkan sebuah perasaan penyesalan terhadap hal yang selama ini ia lupakan di dalam pohon kehidupan. Pada bait terakhir “sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi” tersirat perasaan menyesal pada diksi “sesaat adalah abadi”.

            Secara umum, makna dari puisi ini adalah seorang yang bertemu dengan akhir hidupnya. Ia terbaring menikmati akhir dari segalanya dengan segala sesal yang ia dapat. Kehidupan telah bergerak mengeliminasinya. Daun telah meninggalkan pohonnya, seperti nyawa yang telah meninggalkan raganya. Saat tersebut merupakan saat penuh arti, sesaat adalah keabadian, namun keabadian sesaat hanya terindra pilihan sudah habis tertelan waktu. Semua yang terluput hanya teringat saat akhir datang, sebelum Tuhan menyapu nyawa kita menuju pembuangan akhir (akhirat) ia mohon sejenak waktu untuk mengingat semua yang terluput. Namun, ingin hanya ingin semata. Takdir kan terus bergulir meninggalkan permulaan menuju ending.

(daun maple,  ketika hendak gugur,  warna nya semakin indah, dan orang2 pun menanti untuk menyaksikan kegugurannya)

Selasa, 04 Agustus 2015

Makna Sebuah Titipan

Mengenang WS Rendra dalam Puisi “Makna Sebuah Titipan”

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

~ WS Rendra ~

Kamis, 02 April 2015

DELAPAN KATA UNTUK IMAM ASY-SYAFI'I

Imam Asy-Syafi’i - rahimahullah - pernah ditanya tentang arti delapan kata berikut : wajib, lebih wajib, menakjubkan, lebih menakjubkan, sulit, lebih sulit, dekat dan lebih dekat.

Lalu beliau menjawabnya dalam beberapa bait syair berikut :


مِنْ وَاجِبِ النَّاسِ أَنْ يَتُوْبُـوْا لَكِنَّ تَـرْكَ الذُّنُـوْبِ أَوْجَـبُ

Bertaubat bagi manusia adalah perkara wajib... 
Namun meninggalkan segala dosa itu lebih wajib


وَ الدَّهْرُ فِي صَرْفِهِ عَجِيْـبٌ وَ غَفْلَـةُ النَّاسِ عَنْـهُ أَعْجَـبُ

Perubahan pada masa adalah suatu yang menakjubkan...
Namun lalainya manusia dari semua itu lebih menakjubkan


وَالصَّبْرُ فِي النَّائِبَاتِ صَعْبٌ لَكِنَّ فَوَاتَ الثَّـوَابِ أَصْـعَبُ

Bersabar tatkala musibah datang adalah perkara sulit (bagi hati)...
Namun berlalunya pahala begitu saja lebih sulit (bagi diri)


وَكُلُّ مَا تَرْتَجِــيْ قَرِيْـبٌ وَالْمَوْتُ مِنْ دُوْنِ ذَلِكَ أَقْـرَب

Segala sesuatu yang engkau harapkan adalah dekat...
Namun datangnya kematian itu adalah lebih dekat.

Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 51, hal. 59

Minggu, 23 Februari 2014

Sajak empat seuntai

Dalam setiap kata yang kau baca selalu ada
Huruf yang hilang --
Kelak kau pasti akan kembali manemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.

(1989 - SDD)

Jumat, 15 Maret 2013


Angin menghembus
Bintang bersinar
Bulan terpaku
Awan berjalan
Malam mencekam
Lagu di putar
Lentera menyala
Kamu tak ada


Jumat, 22 Februari 2013

Larut


Sudah larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Siapa berkata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti 


_C. A._


Kamis, 31 Januari 2013

Nocturno_fragment

Aku menyeru
Tapi tidak satu suara membalas
Hanya mati di beku udara

Dalam diriku terbujur keinginan
Juga tidak bernyawa
Mimpi yang penghabisan
Sia-sia berdaya dalam cekikan hatiku

Aku merindu hingga gagu
Aku mendamba hingga kehilangan daya

Rabu, 19 Desember 2012

Kecocokan Jiwa

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun
Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa
dan jikalau itu ada, cinta takkan pernah tercipta
dalam hitungan tahun, bahkan milenia

_Kahlil Gibran_



Kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya
Ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu
Itu kesamaan
Ada panas dan dingin bertemu untuk mencapai kehangatan
Itu keseimbangan
Ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman
Itu kegenapan

Tapi satu hal tetap sama
Mereka cocok karena bersama bertasbih memuji Allah
seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi
Ruku' pada keagungan Nya


Sabtu, 08 Desember 2012

Sepi


Sepi di luar, sepi menekan-mendesak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepas diri
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi.
Ini sepi terus ada

Terasa hari jadi akan malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Bukan maksudku berbagi nasib
Nasib adalah kesunyian masing-masing

_CA_ 

Selasa, 27 November 2012

rapuh


Pada mulanya hanyalah sepasang hati, suatu malam ditumbuhi sayap, 
Mengepak diantara  kerdap bintang dan bias gelap
Lalu mereka menamainya rindu, tajamnya menerabas dada beku
Tapi sayap tak menemukan apa-apa, hanya kunang-kunang luka yang tersesat


Pada mulanya adalah senja, pantai yang memberinya janji
Lokan,  pasir batu dan ombak berkecipak
Maka tabahlah dia mengembara, walau tiada lagi cahaya dan sayap
Diingat-ingatnya kembali sebuah peta, sebuah nama di pantai yang sama,
Ketika cinta pamit menukik ke liang lahat


Kamis, 25 Oktober 2012

kepada pemeluk teguh


Tuhanku...
dalam termangu
aku masih menyebut nama Mu..

biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

caya Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku..
aku hilang bentuk
. . remuk . .

Tuhanku..
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku..
di pintu Mu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling..

13 November 1943 - Chairil Anwar 



Jumat, 15 Juni 2012

..flightless..

Sayap ini tidak pernah patah
Sayap ini hanya lelah ..
Sayap ini akan terbang kembali menuju mega putih ....
Menghirup kembali semangat yang terasa mati
....

Hembusan angin hanya rintangan kecil
Hempasan badai hanya halangan tak berarti
Karena kekuatan itu masih ada,dan tetap ada ...
Tersembunyi menanti untuk ditemukan ...

Mengepakkan sayap melaju melewati batas ragu ....
Terdiam mengangkasa untuk memahami ...
Malayang untuk mengerti
...
Gapai tujuan yang masih terhadang .....

Janji yang terucap,..
Waktu yang telah terlewat,....
Merpati akan selalu ingat...