Label

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2015

SEJARAH KALENDER HIJRIYAH

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits* 
Dewan Pembina Konsultasi Syariah

Masyarakat Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal. Mereka juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal. Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji, mereka kenal bulan Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijah, Shafar Awal (Muharam), dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan.

Hanya saja masyarakat jazirah Arab belum memiliki angka tahun. Mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Biasanya, acuan tahun yang mereka gunakan adalah peristiwa terbesar yang terjadi ketika itu. Kita kenal ada istilah tahun gajah, karena pada saat itu terjadi peristiwa besar, serangan pasukan gajah dari Yaman oleh raja Abrahah.Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi perang Fijar. Tahun renovasi Ka’bah, karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan dibangun ulang. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian tokohnya sebagai acuan, semisal; 10 tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai.

Keadaan semacam ini berlangsung terus sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketka itu, para sahabat belum memiliki acuan tahun. Acuan yang mereka gunakan untuk menamakan tahun adalah peristiwa besar yang terjadi ketika itu. Berikut beberapa nama tahun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

1. Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah.

2. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik.

3. Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud.

4. Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum muslimin menghadapi berbagai cobaan ekonomi, keamanan, krisis pangan, karena perang khandaq. Dst.

(Arsyif Multaqa Ahlul Hadits, Abdurrahman al-Faqih, 14 Maret 2005)

Sampai akhirnya di zaman Umar bin Khattabradhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah. Di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah (Irak). Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan:

إنه يأتينا من أمير المؤمنين كتب، فلا ندري على أيٍّ نعمل، وقد قرأنا كتابًا محله شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat, beliau berkata kepada mereka:

ضعوا للناس شيئاً يعرفونه

“Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan acuan.”

Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain (Mahdhu ash-Shawab, 1:316, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab,  Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)

Kemudian disebutkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Said bin al-Musayib, beliau menceritakan:

Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muhajirin dan anshar radhiyallahu ‘anhum, beliau bertanya: “Mulai kapan kita menulis tahun?” Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan: “Kita tetapkan sejak Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik.” Maksud Ali adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Mengapa bukan tahun kelahiran Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi acuan?

Jawabannya disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:

أن الصحابة الذين أشاروا على عمر وجدوا أن الأمور التي يمكن أن يؤرخ بها أربعة، هي مولده ومبعثه وهجرته ووفاته، ووجدوا أن المولد والمبعث لا يخلو من النزاع في تعيين سنة حدوثه، وأعرضوا عن التأريخ بوفاته لما يثيره من الحزن والأسى عند المسلمين، فلم يبق إلا الهجرة

Para sahabat yang diajak musyawarah oleh Umar bin Khatthab, mereka menyimpulkan bahwa kejadian yang bisa dijadikan acuan tahun dalam kalender ada empat: tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika beliau wafat. Namun ternyata, pada tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu. Mereka juga menolak jika tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau (Fathul Bari, 7:268).

Abu Zinad mengatakan:

استشار عمر في التاريخ فأجمعوا على الهجرة

“Umar bermusyawarah dalam menentukan tahun untuk kalender Islam. Mereka sepakat mengacu pada peristiwa hijrah (Mahdzus Shawab, 1:317, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab,  Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)

Karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya kalender ini dinamakanKalender Hijriah.

Setelah mereka sepakat, perhitungan tahun mengacu pada tahun hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka bermusyawarah, bulan apakah yang dijadikan sebagai bulan pertama.

Pada musyawarah tersebut, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah Muharam. Karena beberapa alasan:

a. Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender masyarakat Arab di masa masa silam.

b. Di bulan Muharam, kaum muslimin baru saja menyelesaikan ibadah yang besar yaitu haji ke baitullah.

c. Pertama kali munculnya tekad untuk hijrah terjadi di bulan Muharam. Karena pada bulan sebelumnya, Dzulhijah, beberapa masyarakat Madinah melakukan Baiat Aqabah yang kedua.

(simak keterangan Ibn Hajar dalam Fathul Bari, 7:268)

Sejak saat itu, kaum muslimin memiliki kalender resmi, yaitu kalender hijriyah, dan bulan Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender tersebut.

Allahu a’lam.

*Sumber:http://www.konsultasisyariah.com/sejarah-penetapan-kalender-hijriah/

Sabtu, 10 Oktober 2015

SAMARA BARA

📆 Sabtu, 26 Dzulhijjah 1436H / 10 Oktober 2015

🌄 KELUARGA SAMARA

📝 Pemateri: Ustz. EKO YULIARTI SIROJ

📋 “Karena Berkeluarga Adalah Fitrah”

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹 

💝Ada Khadijah yang merindu. Merindukan sesuatu yang hilang dan mengharapkannya kembali.
Ada Muhammad yang gemilang. Pemilik sifat mulia, cerdik dan jujur, yang diminta Khadijah untuk membawa barang dagangan miliknya ke Syam ditemani seorang pembantu bernama Maisarah dan pulang membawa keuntungan yang berlimpah.

Khadijah sepeti menemukan barang yang hilang dan sangat ia harapkan itu. Sudah banyak pemuka kaum yang melamar Khadijah untuk menikahinya. Namun Khadijah tidak mau.

Tiba-tiba…ketika kafilah dagang Muhammad kembali dari negeri Syam dengan capaian yang fenomenal, ia teringan rekannya Nafisah binti Muniyah. Dia meminta rekannya ini untuk menemui Muhammad dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah.

Ternyata beliau menerima tawaran itu, lalu beliau meneui paman-pamannya untuk memohon restu. Kemudian paman-paman beliau menemui paman-paman Khadijah untuk mengajukan lamaran. Setelah semua dianggap beres, maka perkawinan siap dilaksanakan.

Dua bulan sepulang dari Syam, Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar menjadi saksi pernikahan agung itu. Dengan mas kawin dua puluh ekor unta muda, Muhammad menikahi Khadijah seorang perempuan terpandang, cantik, pandai, dan juga kaya.

Demikian Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan pernikahan Muhammad dengan Khadijah dalam kitab siroh yang terkenal Ar-Rohiqul Makhtum.

💝Rasa itu tersimpan cukup lama dihati seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Rasa yang muncul pertama kali saat Ali melihat Fathimah membersihkan luka sang ayah dengan penuh kasih sepulang sang ayah dari medan perang.

Remuk redam hati Ali saat ia tahu satu demi satu pemuka sahabat mengajukan lamaran kepada Rasulullah untuk menikahi putrinya.
Namun hati Ali kembali berbunga saat jawaban yang diberikan Rasulullah selalu saja “Dia (Fathimah) masih kecil.”

Bunga-bunga di hati Ali tak kunjung bertambah karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengajukan lamaran kepada Rasul mulia.

Hingga suatu hari Abu Bakar RA mendatanginya dan menanyakan mengapa ia tidak mengajukan lamaran kepada Fathimah putri Rasulullah SAW. Antara bahagia karena Abu Bakar begitu kuat mendorongnya untuk menikah dan tidak percaya diri karena tidak memiliki apa-apa, Ali mengambil sebuah keputusan berani. Ya…ia akan menemui Rasulullah SAW.

Ummu Salamah yang saat Ali mendatangi Rasulullah sedang berada di rumahnya menceritakan dengan agak detil bagaimana pertemuan Ali dan Rasulullah berlangsung.

Rona merah muka Ali karena malu, bicara gugup sambil tertunduk, wajah Rasulullah yang berbinar bahagia menerima pinangan Ali, dikisahkan Ummu Salamah dengan begitu lengkap.

Bahkan kondisi ekonomi Ali yang dipaparkan dengan jujur dan didiskusikan bersama Rasulullah menambah indahnya perjalanan Ali memulai berkeluarga. Seekor unta, sebilah pedang dan seperangkat baju besi, hanya itu yang dimiliki Ali. Dan Rasulullah memilih baju besi sebagai mahar Ali untuk menikahi Fathimah.

🍂 Berkeluarga memang fitrah setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Fitrah yang salah satu maknanya dijelaskan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya sebagai khilqoh; anugerah pemberian Allah SWT. 

Dan setiap orang memiliki anugerah itu. Anugerah kecenderungan untuk memiliki pasangan dan berketurunan.

Islam adalah agama fitrah, dan manusia diciptakan Allah SWT  dengan fitrah ini. Karenanya Allah SWT memerintahkan manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fitrah agar kehidupan yang dijalani sesuai dengan fitrah yang Allah anugerahkan dan tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum : 30]

💡Ibnu Abdul Bar seperti yang dikutip Al-Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitrah ini harus dijaga agar ia salamah dan istiqomah (selamat dan tetap lurus/konsisten). Yang membuat ia selamat dan lurus adalah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah yaitu dienul Islam.

🍂Adakah fitrah yang yang tidak selamat & berbelok?
Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berikut menjadi jawabannya.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُننَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari)

Para ulama menyebutkan bahwa secara khusus yang dimaksud dengan fitrah dalam hadits ini adalah setiap bayi yang dilahirkan memiliki pengetahuan tentang Robb-nya. Maka saat manusia tumbuh menjadi dewasa, pengetahuan tentang Robb ini sangat ditentukan oleh lingkungan tempat ia tumbuh.
Dan lingkungan terdekat dari seseorang adalah ORANG TUA nya.

Diantara fitrah (dalam pemahaman yang lebih umum) yang dimiliki manusia adalah keinginan dan kebutuhan untuk menikah dan berkeluarga. Bahkan para nabi dan rasul sebagai makhluk Allah yang normal, mereka menikah dan berkeluarga. Karena berkeluarga adalah kebutuhan, maka Allah memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya. 

Lihatlah kisah diatas, bagaimana kecenderungan untuk menikah itu bermula dari Khadijah dan ia membuka jalan sedikit demi sedikit untuk mengupayakannya.

Tidak ada aib disana karena ia merencanakan dan menjalani perencanaan dengan sangat rapi tanpa melanggar aturan. Bahkan urusan usia sang calon istri yang jauh diatas calon suami tidak menjadi penghalang untuk berkeluarga.

🔑 Karena menikah adalah fitrah, maka jalan ke arahnya harus sesuai dengan aturan Allah.

Pun demikian dengan jalan yang ditempuh Ali bin Abi Thalib. Karena menikah itu fitrah, ia beranikan diri menghadap Rasulullah untuk meminang putrinya dengan kondisi Ali yang serba minim.

Tapi lihatlah bagaimana respon Rasulullah SAW? Beliau begitu bahagia, menerima lamaran Ali dengan wajah cerah ceria. Karena walau kondisi ekonominya minim, tapi Ali memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lain. Rasulullah bahagia…karena MENIKAH ITU FITRAH.🔍

🍂Dalam urusan MAHAR, Islam juga memberi kemudahan.
Ada Rasulullah Muhammad yang menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh ekor unta muda. Nilai yang sangat besar bahkan untuk situasi saat ini. Karena unta muda (unta merah) adalah unta yang harganya paling mahal.

Ada Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fathimah binti Rasulullah dengan mahar seperangkat baju besi senilai 40 dirham menurut sebagian riwayat.

Keduanya berjalan lancar dan mengantarkan mereka kepada pembentukan keluarga harmonis yang penuh berkah hingga anak cucu, kaum kerabat bahkan para sahabatnya.

Tidak ada yang memberatkan dalam mahar, karena menikah dan berkeluarga adalah fitrah.  
Fitrah berkeluarga antara laki-laki dan perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al Hujurat Ayat 13)

Sepanjang sejarah manusia, Allah SWT seolah menegaskan bahwa sesuai dengan fitrah pernikahan dan pembentukan keluarga dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Ada Adam dan Hawa, ada Ibrahim dan Hajar, ada Yusuf dan Zulaikha, ada Muhammad dan Khadijah.

Dan Allah SWT memberikan contoh bagi umat manusia bagaimana akhir cerita suatu kaum yang keluar dari fitrah yang Allah anugerahkan. Kaum nabi Luth adalah sebuah contoh, bagaimana perilaku menyimpang yang mereka lakukan justru mengundang adzab yang sangat besar dari Allah SWT. (silakan pelajari surat Huud ayat 77-82).

Hari ini, kita menghadapi sebuah gelombang besar. 🔹Gelombang yang mengajak manusia untuk meninggalkan fitrahnya. 🔹Gelombang yang menuntut agar penyimpangan fitrah yang dilakukan segelintir orang bukan diobati tetapi dipermaklumkan atas nama hak asasi manusia. 🔹Gelombang yang akan meruntuhkan tatanan berkeluarga dan bermasyarakat itu dipaksakan untuk diterima oleh semua kalangan di semua Negara karena mereka menitipkan suaranya kepada komisi perempuan PBB.

Mereka kaum lesbi, gay, biseksual dan transjender (LGBT) menuntut agar perilaku menyimpang mereka diakui tidak hanya oleh masyarakat akan tetapi diakui oleh Negara.

Pernahkah kita membayangkan sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang laki-laki dewasa atau dua orang perempuan dewasa dan seorang atau dua orang anak (adopsi) hidup ditengah masyarakat kita?

Keluarga yang tanpa perlu berfikir panjang bisa memutuskan ikatannya dan membentuk keluarga baru? Keluarga yang tak memiliki orientasi dan tujuan yang jelas untuk apa mereka bersama-sama?  Apakah dari keluarga model ini akan hadir sakinah, mawaddah dan rahmah?

Tentu saja 🔊..TIDAK..🔊 karena berkeluarga memiliki ruh dimensi waktu yang sangat panjang. Bukan hanya saat mereka ada bahkan saat mereka telah tiada keluarga menjadi teladan bagi generasi selanjutnya seperti keluarga Ibrahim AS dan keluarga Muhammad SAW yang hingga kini kita sebut keduanya dalam shalawat kita.

Maka berhati-hatilah terhadap gerakan yang dilakukan kelompok ini yang upayanya merambah kehidupan kita terutama dilakukan dengan menggunakan media.

Film yang ditonton anak-anak kita tanpa menyebutkan identitas yang jelas seperti sponge bob atau teletubbies.

Artis atau comedian laki-laki yang penampilannya gemulai seperti perempuan.
Olah raga berat yang dilakukan oleh kaum perempuan seperti gulat, tinju, angkat besi, dll.

Jika tidak dihentikan, maka gelombang itu akan merasuk ke dalam masyarakat kita.

Naudzu billah tsumma naudzu billah.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌼Dipersembahkan oleh grup WA - MANIS - MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

- Twitter: @GrupMANIS
- Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala...

Selasa, 06 Oktober 2015

Kalau Belum Waktunya, Jangan!

📆Senin, 21 Dzulhijjah 1436 / 05 Oktober 2015

🌄 TAZKIROH

📝 Pemateri: Ust SYAHRONI MARDANI Lc.

📜 "KALAU BELUM WAKTUNYA, JANGAN.."

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Ada kaidah yg mengatakan bahwa:

🍀🍂"SIAPA YANG MENIKMATI SESUATU SEBELUM WAKTUNYA, MAKA SAAT WAKTUNYA TIBA, DIA TIDAK DAPAT MENIKMATINYA LAGI".🍂🍀

Benar sekali kaidah ini.. Siapa yang bersenang-senang di dunia, maka dia tak dapat bersenang-senang lagi di akhirat.

🌵Pakaian penghuni surga adalah sutera (fathir 35 : 33).. (alhajj 22 : 23)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

🌵 "Janganlah engkau memakai sutera.
Dan barang siapa yg memakai sutera di dunia, maka dia tak akan dapat memakainya lagi di akhirat" (muttafaq alaih)

Ada beberapa minuman penghuni surga, di antaranya adalah khamar. Tentu khamar yg terbaik dan tidak memabukkan. (Muhammad 47 : 15) (alwaqiah 56 : 17 -19)

Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim bersabda,

🌵"Setiap yang memabukkan adalah khamar. Setiap khamar adalah haram. Siapa yg minum khamar (di dunia) lalu mati dan belum bertaubat masih kecanduan khamar, maka dia tak akan pernah meminumnya lagi di akhirat" (HR muslim)

Saudaraku..
Dunia adalah tempat beramal...
Dan akhirat tempat memetik hasilnya.

Kita akan bersenang senang di akhirat, 
Insya Allah bersenang senang di surganya Allah.

💡"Innaman nasru sobru sa'ah.. "

Maknanya...

💡 KEMENANGAN ITU ADALAH BERSABAR YANG HANYA SEBENTAR SAJA.

Wallahu a'lam bishawab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌼Dipersembahkan oleh grup WA - MANIS - MAJELIS IMAN ISLAM 🌼

- Twitter: @GrupMANIS
- Blog: www.grupmanis.blogspot.com

💼 Sebarkan! Raih pahala...

Kamis, 02 April 2015

DELAPAN KATA UNTUK IMAM ASY-SYAFI'I

Imam Asy-Syafi’i - rahimahullah - pernah ditanya tentang arti delapan kata berikut : wajib, lebih wajib, menakjubkan, lebih menakjubkan, sulit, lebih sulit, dekat dan lebih dekat.

Lalu beliau menjawabnya dalam beberapa bait syair berikut :


مِنْ وَاجِبِ النَّاسِ أَنْ يَتُوْبُـوْا لَكِنَّ تَـرْكَ الذُّنُـوْبِ أَوْجَـبُ

Bertaubat bagi manusia adalah perkara wajib... 
Namun meninggalkan segala dosa itu lebih wajib


وَ الدَّهْرُ فِي صَرْفِهِ عَجِيْـبٌ وَ غَفْلَـةُ النَّاسِ عَنْـهُ أَعْجَـبُ

Perubahan pada masa adalah suatu yang menakjubkan...
Namun lalainya manusia dari semua itu lebih menakjubkan


وَالصَّبْرُ فِي النَّائِبَاتِ صَعْبٌ لَكِنَّ فَوَاتَ الثَّـوَابِ أَصْـعَبُ

Bersabar tatkala musibah datang adalah perkara sulit (bagi hati)...
Namun berlalunya pahala begitu saja lebih sulit (bagi diri)


وَكُلُّ مَا تَرْتَجِــيْ قَرِيْـبٌ وَالْمَوْتُ مِنْ دُوْنِ ذَلِكَ أَقْـرَب

Segala sesuatu yang engkau harapkan adalah dekat...
Namun datangnya kematian itu adalah lebih dekat.

Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 51, hal. 59

Selasa, 18 November 2014

Hikmah Syukur

Kitab Al-Hikam - https://play.google.com/store/apps/details?id=org.daarulhijrah.alhikam

Hikmah ke-75

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْتَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا , وَمَنْ شَكَرَهَافَقَدْ قَيَّدَ هَا بِعِقَالِهَا .

Hikmah 75 Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dan siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.

Firman Allah : Bila kamu bersyukur , pasti Kami akan menambah nikmat bagimu . Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).

Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).

Annu’maan bin Basyir ra berkata :Bersabda Nabi saw : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah.

Syukur : Ialah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Al Junaid berkata : Ketika saya beru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussaqathi, tiba tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata : Saya kuatir dalam bagian mu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan Assary itu.

Selasa, 30 September 2014

hukum fisika vs keimanan


Alhamdulillah Pagi Yang Cerah. Sejenak Pagi :

Seorang profesor yg atheis berbicara dlm sebuah kelas.

Profesor: "Apakah Allah menciptakan sgala yg ada?"
Para mahasiswa: "Betul, Dia pencipta segalanya."

Profesor: "Jika Allah menciptakan segalanya, berarti Allah jg menciptakan kejahatan."
(Semua terdiam, kesulitan menjawab hipotesis profesor itu).

Tiba², suara seorang mahasiswa memecah kesunyian.

Mahasiswa: "Prof, saya ingin bertanya. Apakah dingin itu ada?"
Profesor: "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja, dingin itu ada."

Mahasiswa: "Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yg kita anggap dingin sbenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Smua partikel mnjadi diam, tidak bisa bereaksi pd suhu tsb. Kita menciptakan kata 'dingin' untuk mengungkapkan ketiadaan panas. Slanjutnya, apakah gelap itu ada?"

Profesor: "Tentu saja ada!"

Mahasiswa "Anda salah, Prof! Gelap jg tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tiada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, sedangkan gelap tidak bisa. Kita bisa mgunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya mnjadi bbrapa warna dan mempelajari panjang gelombang stiap warna. Tapi, Anda tidak bisa mengukur gelap. Sberapa gelap suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas cahaya di ruangan itu. Kata 'gelap' dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.
Jadi, apakah kejahatan itu ada?"

Profesor mulai bimbang, tp menjawab: "Tentu saja ada."

Mahasiswa: "Sekali lagi anda salah, Prof! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan. Seperti dingin dan gelap, 'kejahatan' adalah kata yg dipakai manusia utk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dlm hati manusia."

Profesor terpaku dan terdiam!

Dosa terjadi karena manusia lupa hadirkan Allah dalam hatinya..
Hadirkan Allah dalam hati pada setiap saat, maka akan selamat..
Itulah IMAN..

Dosa lahir saat IMAN tidak berada dalam hati..

Semoga manfaat.

Rabu, 20 Agustus 2014

ghazwul fikri

bu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya.Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, saya punya 2 permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru berhenti sebentar lalu kembali berkata,"baik sekarang perhatikan". Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu dan  terpengaruh. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."

"Merasa selalu benar, keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik bahkan  dengan non muslim, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, berbuat dosa menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Kalian dibawa menjauh dari meneladani SIKAP dan AKHLAK Rasulullah. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Ibu ada Qur'an, ibu akan meletakkannya di tengah karpet.Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah: bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya.
Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan.
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah.
Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka.
Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.
Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat.
Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu.
Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian.
Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.

Mulai dari perangai, cara hidup, adab, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran).
Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.

Alllah berfirman dalam At Taubah 32:yuriiduuna an yuthfi-uu nuurallaahi bi-afwaahihim waya/baallaahu illaa an yutimma nuurahu walaw kariha lkaafiruunMereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Maka tampak dari luar masih Muslim.
Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan.

WaLlahu a'lamu bishshawab.
“Sebaik – baik perkataan itu ialah yang sedikit tapi memberikan kejelasan”
“Perhatikanlah apa – apa yang dikatakan dan janganlah memperhatikan siapa yang mengatakan” (Mutiara Islami)“Kata – kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras” (Hamka)
Diambil dari: eramuslim H.Muh.Nur Abdurrahman Kolom Tetap Harian Fajar, dengan judul ‘Permainan Ibu Guru' dari milist Faktual

Minggu, 18 Mei 2014

Mencari Pintu

“Sesungguhnya Allah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi rezeki. Terkadang seseorang dibukakan pintu kebaikan untuk memperbanyak shalat, tetapi ia tidak dibukakan pintu untuk rajin berpuasa. Ada pula yang dibukakan pintu kebaikan untuk banyak bersedekah, tetapi tidak dibukakan pintu hatinya untuk rajin berpuasa. Dan ada pula orang yang dibukakan pintu kebaikan untuk berjihad, sedangkan yang lain tidak. Semoga masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan.” (Imam Malik)

Jika kekurangan harta membuat kita tidak mampu beramal dari pintu sedekah, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat menambah amalan shalih kita.
Jika tubuh yang lemah membuat kita tidak mampu beramal dari pintu puasa, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah.
Jika ayah dan ibu kita telah tiada sehingga kita tidak mampu beramal shalih dari pintu berbakti kepada orang tua, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat memberatkan timbangan amal kebaikan kita.
Jika kondisi kita belum memungkinkan untuk beramal shalih dari pintu jihad, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat menghantarkan kita menuju kesyahidan di jalan-Nya.
"Semoga masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan."

Jumat, 17 Januari 2014

Alhamdulillaah... ♡^^♥







"Andaikan seorang hamba diberi anugerah berupa dunia dan seisinya, lalu dia ucapkan
Alhamdulillah, maka ilham dari Allah atasnya untuk bisa mengucapkan 
Alhamdulillah iti lebih agung dan lebih berharga daripada anugerah berupa dunia dan seisinya, karena nikmat dunia itu akan sirna, sedangkan pahala tahmid itu kekal selamanya." 

(Ibnul 
Qayyim al-Jauziyah
)

Minggu, 18 Agustus 2013

Seakan-akan aku melihat ramadhan..., lalu kusapa ia, "Hendak kemana dikau?"

Dengan lembut ia seakan-akan berkata, "Aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk setiap muslim : Sesungguhnya syawaal telah tiba, salam dan terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita. Aku tidak tahu apakah tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi atau tidak??.

Jika tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi maka aku berharap ia bisa menyambutku dengan lebih baik lagi, dengan penuh tilawah dan sholat malam.

Aku sangat sedih jika mengingat penyambutannya yang kurang berkenan di hatiku. masih terlalu banyak canda, perkataan yang sia-sia serta waktu-waktu yang terbuang tanpa arti...
padahal ia tahu bahwa jika ia menyambutku dengan baik maka tentu aku akan menyambutnya dengan lebih baik lagi kelak di pintu Ar-Royyaan....

Akan tetapi semua sudah berlalu dan sudah terlanjur.
Semoga setetes air mata yang pernah berlinang dari kedua matanya karena takut tidak bisa menyambutku dengan baik akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya.

Sampaikan pula kepadanya bahwa bukanlah lebaran yang hakiki adalah dengan hanya memakai baju baru, akan tetapi lebaran yang hakiki adalah bergembira dengan keimanan dan semangat baru dalam beribadah. Janganlah sepeninggalku ia terjerumus kembali kepada kemaksiatan-kemaksiatan...
ingatlah sesungguhnya Tuhan yang ia sembah tatkala ia menjamu kedatanganku...Dialah Tuhan yang juga ia sembah tatkala aku pergi....

Demikianlah pesanku kepadanya, sampaikan salamku kepadanya, semoga ia masih tetap terus merindukan kedatanganku di tahun-tahun mendatang.... sampai ketemu di pintu Ar-Royyaaan...."

@Ustdz. Firanda Andirja

Rabu, 14 November 2012

terlambat

Aku terlambat. 
Ku kejar kehidupan, tetapi yang kudapat adalah kehidupan yang tak seperti yang ku kejar.
Kematian tak perlu ditakuti karena pasti akan tiba 
 namun tak banyak yang menyukainya dan lari menghindarinya.



Al-Hushain ibn al-Hammam

Sabtu, 27 Oktober 2012

keling . . King




Dalam serial drama korea pasta pernah dikkatakan bahwa  seorang asisten dapur yg tugasnya Cuma disuruh-suruh ambil ini-itu atau tukang bersih-bersih itu bagaikan jari kelingking.. walau kecil, kalau digigit dia juga akan teriak kesakitan..

Dalam serial kungfu China Pendekar Rajawali, ada adegan pendeta busuk (emang itu sebutannya) dari kuil chuencen berjanji untuk merahasiakan sesuatu dengan memotong jari kelingkingnya.

Seorang guru penasehat di tempat saya bekerja pernah bilang: setiap jari di tangan kita ini punya perumpamaan seperti pertumbuhan manusia.
Jari kelingking bagaikan usia 10 tahunan yang tidak mampu menanggung beban/masalah berat dan sepertinya tidak berfungsi, tapi kehadirannya membawa keceriaan dan kesempurnaan.
Jari manis bagaikan usia 20an tahun, kalo manusia umur segitu dikategorikan remaja, lagi seneng-senengnya berhias dan merasa cantik.
Jari tengah bagaikan usia 30an tahun biasanya usia yang dipenuhi impian dan idealisme sehingga manusia nya cenderung merasa paling benar dan paling tinggi.
Kalau jari telunjuk adalah usia 40an tahun, usia eksekutiv mapan jadi sikapnya agak bossy, perintah ini-itu, tunjuk sana-sini.
Nah, jari paling dalem nih jari jempol sering disebut ibu jari. Kenapa begitu ya? Perumpamaannya sih manusia umur 50an yang sudah sepatutnya bisa menerima kehadiran yang lain dan menghebatkan orang lain. Mampu bersikap bijak laksana seorang ibu.

Oke, back to topic, jari kelingking. Kalau difikir jari kelingking itu fungsinya apa sih? Tanpa jari kelingking sebenarnya tangan kita bisa megang sesuatu juga kan?

Saya akhirnya menemukan alasan pentingnya. Ternyata Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ketika berwudhu membersihkan sela jari-jari kaki beliau dengan jari kelingking. Subhanallah.. bukankah tidak ada sesuatu yang tercipta dengan sia-sia. bener atau ga nya, baca artikel ini dulu:

Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)
Tapi ..
pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja’.     

Perlu diingat ketika mencuci kaki disunnahkan untuk menyela jari-jari kaki dan juga jari-jari tangan (Taudihul Ahkam 1/175), sebagaimana hadits :


عَنْ لَقِيْط بْن صَبْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ :
أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِيْ الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

Dari Laqith bin Sobroh berkata : Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :"Sempurnahkanlah wudlu dan sela-selalah jari-jari dan bersungguh-sungguhlah ketika beristinsyaq kecuali engkau sedang berpuasa" (Hadits shohih, dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Adapun menyela jari-jari kaki dengan jari tangan yang kelingking, maka ini hanyalah istihsan dari para ulama dan tidak bisa dikatakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkata Ibnul Qoyyim dalam zadul ma'ad :"…Dalam (kitab) sunan dari Mustaurid bin Syadad berkata : "Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudlu dan dia menggosok jari-jari kakinya dengan jari tangan kelingkingnya" Kalau riwayat ini benar  [1]¨) maka sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya melakukannya sekali-kali. Oleh karena itu sifat seperti tidak diriwayatkan oleh para sahabat yang memperhatikan wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Utsman, Abdullah bin Zaid dan selain keduanya. Lagipula dalam riwayat tersebut ada Abdullah bin Lahiah." (Syarhul Mumti' 1/143).
  lebih lengkap, klik http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/86-tata-cara-wudhu-sesuai-tuntunan-nabi-seri-1

Anyway, tetep aja kalo kita suit, jari kelingking menang dari jempol.. 

Selasa, 14 Juni 2011

Horison


tak ada lagi sekarang waktuuntuk merenung panjang, untuk ragu-ragukarena jalan masih jauh

Selasa, 17 Mei 2011

Sendi-Sendi Kebahagiaan

Sendi adalah hati yang selalu bersyukur, lidah yang terus berdzikir, dan tubuh yang senantiasa bersabar. Syukur, dzikir, dan sabar mengandung nikmat dan ganjaran. Kalaupun ilmu para ulama, hikmah para bijak dan syair para peenyair dihimpun mengenai kebahagiaan ini, niscaya kita tidak akan mendapatkannya hingga kita sendiri memiliki tekad bulat. Yakni, tekad untuk merasakan, merengkuh serta mencarinya dengan sungguh-sungguh serta berusaha untuk mengusir apa yang bertentangan dengannya: “Barangsiapa yang datang kepadaku dengan berjalan kaki, maka aku akan mendatanginya dengan berlari.” (Hadits Qudsi)
Salah satu tanda kebahagiaan seorang hamba adalah menyembunyikan rahasia dirinya dan merencanakan jalan hidupnya. Disebutkan bahwa ada seorang Badui yang mendapat kepercayaan untuk menyembunyikan sebuah rahasia dengan imbalan sepuluh dinar. Namun ia merasa tidak betah dengan rahasia tersebut. Kemudian dia pergi menemui pemilik dinar. Ia mengembalikan dinar itu, dan membuka rahasia yang dibebankan kepadanya. Kesimpulannya, menyembunyikan rahasia itu butuh ketahanan, kesabaran, dan tekad yang kuat.
“Janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu.” (12:5)
Karena sesungguhnya titik lemah yang ada pada manusia adalah menyingkap lembaran-lembaran kehidupannya kepada manusia, meyebarkan rahasia-rahasia hidupnya kepada mereka. Ini merupakan penyakit lama, penyakit menahun yang menjangkiti manusia. Karena jiwa manusia memang cenderung untuk menyebarkan rahasia dan menyebarkan berita.
Hubungannya dengan masalah kebahagiaan adalah bahwa siapa saja yang menyebarkan rahasia dirinya, maka umumnya mereka akan mengalami penyesalan, kesedihan, dan kegelisahan. “Dan,hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (18:19)

“Ihdinash-shiraathal mustaqiim,” Rahasia Hidayah
Kebahagiaan hanya bisa dicapai dan dinikmati oleh orang yang mengikuti satu sisi: dari shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus). Itulah peninggalan Rasulullah untuk kita, karena sisi yang satunya lagi berada di surga.
“Dan, pasti Kami akan tunjukkan mereka kepada jalan yang lurus.” (4:68)
Kebahagiaan orang yang senantiasa berjalan di atas shiraathal mustaqim adalah dia selalu merasa tenang dengan akhir yang baik dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Dia juga merasa yakin bahwa tempat kembalinya adalah tempat yang baik. Ia pun percaya sepenuhnya terhadap janji Rabb-nya, rela dengan qadha-Nya, dan mengendalikan langkahnya untuk tetap berada di atas jalan ini. Dia sadar bahwa ada seorang yang menunjukkan janji. Siapakah? Dia yang makhsum, tidak berbicara berdasarkan nafsu, dan tidak megekor orang-orang yang menyimpang. Dia yang ucapannya adalah hujjah, yang terjaga dari keusilan setan, dan keteledoran manusia.
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintahnya Allah.” (13:11)
Dalam penitiannya di atas jalan ini, dia tahu bahwa dirinya memiliki Ilah, di depannya ada teladan, di tangannya ada kitab suci, di dalam hatinya ada cahaya kebenaran, dan di dalam nuraninya ada pemberi nasehat. Dengan demikian, ia menjadi sosok yang berjalan menuju kenikmatan, yang berbuat dalam ketaatan, dan yang berusaha kea rah kebaikan.
“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba Nya.” (6:88)

Di manakah yang disebut kegelapan, wahai penunjuk jalan? Di manakah cahaya Allah itu ada dalam kalbuku? Dan inilah yang aku lihat.
Jalan yang dimaksud ada dua: yang indrawi dan yang maknawi. Yang indrawi adalah jalan hidayah dan iman. Sedangkan yang indrawi adalah jalan yang ada di atas Jahanam. Jalan keimanan adalah jalan yang ada di dunia fana-sarat dengan cakar-cakar pencengkeram berupa syahwat. Sedangkan jalan ukhrawi yang berada di atas Jahanam-penuh duri-duri yang sangat tajam.

Senin, 25 April 2011

12-15

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:

"Bersyukurlah kepada Allah.

Dan barangsiapa yang bersyukur , maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:

"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar."

Dan Kami perintahkan kepada manusia kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" .

--

Jumat, 08 April 2011

Agar dicintai..

Luqman al-hakim adalah seorang budak hitam asal Habasyah (Ethiopia). Dia berbibir tebal dan bertelapak kaki kasar. Dia menjadi hakim di Bani Israil pada masa pemerintahan Nabi Daud as. Banyak orang yang tertarik dengan kata-kata bijaknya sehingga berdesakan mendatnginya untuk mendengar kata-kata hikmah.
Banyak yang iri dengan ketenarannya ini sehingga Luqman al-hakim terpaksa bertanya kepada keponakan laki-lakinya,

“Menurutmu, apa gerangan yang menarik dariku?” dia menjawab,
“Aku heran mengapa banyak orang berjubel mendatangimu sampai pintumu penuh dipadati orang, dan anehnya mereka selalu ridha dengan ucapan dan kata-kata bijakmu?”
Luqman al-hakim menjawab,
“Wahai anak saudaraku, bila kamu melakukan apa-apa yang aku sarankan, kamu juga akan mendapatkan kedudukan yang aku dapat.”
Laki-laki itu berkata, “Apa saja yang kamu lakukan?”

Lukman menjawab:
“1. Aku menundukkan mataku;
2. Aku menjaga lisanku;
3. Aku berlaku iffah dalam hal makananku (selalu makan yang halal);
4. Aku menjaga kemaluanku;
5. Aku memenuhi janjiku;
6. Aku memuliakan tamuku;
7. Aku menjaga hubunganku dengan tetanggaku;
8. Aku tinggalkan semua yang tidak berguna bagiku.
Itulah yang telah menjadikanku bermartabat seperti yang kamu lihat."

Delapan hal yang dipilih Luqman dan dijadikannya sebagai alasan, mengapa dia disenangi orang banyak dan terkenal sebagai orang yang sangat bijak. Karena delapan hal itu merupakan sifat-sifat inti yang diperintahkan agama islam, untuk menutup pintu dosa-dosa besar dan menjadi ciri ahli surga.

Suatu contoh menundukkan mata, menjaga lisan, memelihara kemaluan, merupakan syarat masuk surga.
Abu Umamah berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Jaminlah aku enam hal, pasti aku jamin kamu sekalian masuk surga;
bila salah seorang kamu berbicara, jangan dusta;
apabila dipercaya, jangan khianat;
bila berjanji, jangan ingkar; tundukkan matamu;
tahan tanganmu dari kejahatan; dan pelihara kemaluanmu’.”
(HR Thabrani, Ibn Hibban, dan Khatib al-Baghdadi).

Dalam HR Imam Al-Bukhari disebutkan, “Barangsiapa menjaga antara dua rahangnya (mulut) dan antara dua kakinya (kemaluannya) aku jamin dia masuk surga.”

Dari sisi lain, Luqman al-hakim selalu bersikap iffah dalam hal makanan. Dia tidak mau memakan yang haram ataupun yang syubhat. Ini adalah syarat masuk surga karena orang yang memakan makanan halal akan dilindungi dari neraka.

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra ia berkata, ‘Adalah seorang di bawah tanggungan Rasulullah SAW bernama Kirkiroh, kemudian ia meninggal. Namun Rasulullah SAW berkata bahwa KIrkiroh akan masuk ke neraka. Maka itu, para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan’.”
(Sahih Bukhori hadits no 2845) (Tuhfatul Ahwadzi hadits no 1381).

Dalam sebuah atsar disebutkan, Barang siapa tidak peduli dari mana ia dapatkan makanannya, Allah tidak akan peduli padanya dari pintu mana ia akan dimasukkan ke neraka.
Perilaku Luqman lainnya adalah memuliakan tamu dan menjaga hubungan baik dengan tetangga, kedua sifat ini tanda bukti keimanan seorang ahli surga. Kedelapan akhlak Luqman al-hakim merupakan ciri ahli surga. Setiap manusia yang berperilaku sebagai ahli surga pasti akan menjadi kekasih Allah sehingga pendengarannya, penglihatannya, dan ucapannya selalu dalam bimbingan Allah SWT.

Senin, 04 April 2011

Cara Berprasangka Baik

Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik dari dirimu. Ucapkanlah dalam hatimu:

“Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku.”

Jika bertemu dengan anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu):

“Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”

Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (Dalam hatimu):

“Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”

Jika bertemu dengan orang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu):

“Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui, dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”


Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu):

“Orang ini bermaksiat kepada Allah karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”

Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu):

“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak. Bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal sholeh, dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”

Source: “Orang Bijak Berkata” oleh Habib Novel bin Muhammad Alaydrus