Label

Tampilkan postingan dengan label Potret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potret. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

Assabiqun Al-awwalun

Cara menghafal nama 10 sahabat yang dijamin masuk syurga

Teman-teman yang baik hati, rajin belajar dan suka menabung!!!

Kita tentu pernah dong mendengar atau membaca nama-nama sahabat yang dijamin masuk syurga.

Namun sudahkah kita menghafalkannya, sebagai bentuk cinta kita pada para sahabat radhiyallahu anhum?

Nah berikut ini cara mudah untuk menghafalnya :

1 Tho'  :

Tholhah bin Ubaydillah.

2 Siin  :

Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid.

3 Alif  :

Abu Bakar, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, Az-Zubair bin 'Awwam.

4 'Ain  :

'Umar, 'Utsman, 'Ali, 'Abdurrahman bin 'Auf.

1, 2, 3, 4 , , , selesai dech ! mudah bukan???

abul aswad al bayaty.
assiwak.wordpress.com

Sabtu, 19 Juli 2014

“Kami tidak meminta kalian berjihad bersama kami mengangkat senjata. Sebab siap siaga untuk mempertahankan tanah suci umat Islam. Kami hanya meminta doa kalian. Karena doa senjata paling hebat yang tidak dimiliki kaum kafir. Tolong sebarkan kepada umat Islam di seluruh dunia, kami saat ini terkepung. Jika ingin membantu, bantulah sesuai kemampuan kalian. Jika menyebarkan informasi saja tidak mampu kalian lakukan, apakah kalian siap diminta pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat?”

— [Ismail Haniya]


Kamis, 17 April 2014

Kisah ksatria Salman Alfarisi

Mainstreamming jiwa Ksatria: Keindahan Hukum di Jaman Umar

Izinkan menceritakan tentang sebuah kisah keagungan dan keindahan hukum. Agar tetap terjaga harap dan sangka baik untuk negeri ini. Umar sedang duduk beralas surban di bebayang pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Sahabat di sekelilingnya bersyura' (rapat) membahas aneka soal. Tiga orang pemuda datang menghadap, dua bersaudara berwajah marah yang mengapit pemuda lusuh yang tertunduk dalam belengguan mereka.

"Tegakkan keadilan untuk kami, hai Amirul Mukminin." ujar seorang. "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatannya!"

Umar bangkit. "Bertakwalah kepada Allah," serunya pada semua. "Benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?" selidiknya.

Pemuda itu menunduk sesal. "Benar wahai Amirul Mukminin!" jawabnya ksatria.
"Ceritakanlah pada kami kejadiannya!" tukas Umar.

"Aku datang dari pedalaman yang jauh,
kaumku memercayakan berbagai urusan muamalah untuk kuselesaikan di kota ini," ungkapnya. "Saat sampai," lanjutnya, "kutambatkan untaku di satu tunggul kurma lalu kutinggalkan ia. Begitu kembali, aku terkejut dan terpana. Tampak olehku seorang lelaki tua sedang menyembelih untaku di lahan kebunnya yang tampak rusak terinjak tanamannya. Sungguh aku
sangat marah dan dengan murka kucabut pedang hingga terbunuhlah si bapak itu. Dialah rupanya ayah kedua saudaraku ini."

"Wahai Amirul Mukminin," ujar seorang penggugat, "kau telah mendengar
pengakuannya dan kami bisa hadirkan banyak saksi untuk itu."

"Tegakkanlah hak Allah atasnya!" timpal yang lain. Umar galau dan bimbang setelah mendengar lebih jauh kisah pemuda terdakwa itu. "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya," ujar Umar, "dia membunuh ayah kalian karena lhilad kemarahan sesaat."

"Izinkan aku," ujar Umar, "meminta kalian berdua untuk memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu."

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda dengan mata masih menyala merah, sedih dan marah,"kami sangat menyayangi ayah kami. Bahkan harta sepenuh bumi dikumpulkan untuk kami, hati kami hanya ridha jika jiwa dibalas dengan jiwa!"

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilai amanah, jujur dan bertanggung jawab tetap kehabisan akal yakinkan penggugat.

"Wahai Amirul Mukminin," ujar pemuda tergugat dengan anggun dan gagah,
"tegakan hukum Allah, aku ridha pada ketentuan Allah," lanjutnya, "hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah dan kewajiban yang tertanggung ini."

"Urusan muamalah kaumku, berilah aku 3 hari untuk selesaikan semua. Aku berjanji dengan nama Allah yang menetapkan qishash dalam Al-Quran, aku akan kembali 3 hari dari sekarang untuk menyerahkan jiwaku."
"Mana bisa begitu!" teriak penggugat. "Nak," ujar Umar, "tak punyakah kau kerabat dan kenalan yang bisa dilimpahi urusan ini?"

"Sayangnya tidak Amirul Mukminin. Bagaimana pendapatmu jika kematianku masih menanggung utang dan amanah lain?"

"Baik," sahut Umar, "kau memberi tangguh 3 hari tapi harus ada seseorang yang menjaminmu bahwa kau menepati janji untuk kembali."

"Aku tidak memiliki seorang kerabat di sini. Hanya Allah yang jadi penjaminku wahai orang-orang yang beriman kepada-Nya," rajuknya.

"Harus ada orang yang menjaminnya!" ujar penggugat, "andai pemuda ini ingkar janji, siapa yang akan gantikan tempat untuk diqishash?"

"Jadikan aku penjaminnya, hai Amirul Mukminin!" sebuah suara berat dan
berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Itu Salman Al-Farisi.

"Salman?" hardik Umar, "demi Allah engkau belum mengenalnya! Jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!"

"Pengenalanku kepadanya, tak beda dengan pengenalanmu ya Umar," ujar Salman, "aku percaya kepadanya sebagaimana engkau memercayainya."

Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman baginya.

Tiga hari berlalu. Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah mondar mandir.
Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat mengkhawatirkan Salman.
Sahabat perantau negeri, pengembara iman itu mulia dan tercinta di hati Rasul dan sahabatnya.
Mentari nyaris terbenam.
Salman dengan tenang dan tawakal melangkah siap ke tempat qishash. Isak pilu tertahan. Tetapi
sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok, dan nyaris merangkak.
"Itu dia!"pekik Umar..

Pemuda itu dengan tubuh berkuah peluh dan napas putus-putus ambruk di pangkuan Umar.."Maafkan aku," ujarnya, "hampir
terlambat.. Urusan kaumku memakan banyak waktu..
Kupacu tungganganku tanpa henti hingga sekarat dan terpaksa kutinggal lalu aku berlari.."

"Demi Allah,"ujar Umar sambil menenangkan dan meminumi,"bukankah
engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?"

"Supaya jangan sampai ada yang mengatakan,"ujar terdakwa dalam senyum, "di kalangan Muslimin tak ada lagi ksatria tepat janji.."

"Lalu kau, hai Salman," ujar Umar berkaca -kaca,"mengapa mau jadi penjamin seseorang yang tak kaukenal sama sekali!"

"Agar jangan sampai dikatakan," jawab Salman teguh, "di kalangan Muslimin tak ada lagi saling percaya & menanggung beban saudara.."

"Allahu Akbar!" pekik dua pemuda penggugat sambil memeluk terdakwanya,"Alloh & kaum Muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya.."

"Kalian memaafkannya?"
Umar makin haru, "jadi dia tidak diqishash? Allahu Akbar! Mengapa?"

"Agar jangan ada yang merasa,"sahut keduanya masih terisak, "di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan & kasih sayang.."

Ust.salim

#semoga kisah di atas bukan cuma catatan sejarah masa lalu, tapi akan terus berulang di setiap jaman. Aamiin.

Minggu, 15 Juli 2012

Blind Test


30
tahun usianya ketika itu; dan John Sculley menjadi CEO termuda dalam sejarah Pepsi Corporation. Strateginya membuat pasar Coke andalan Coca Cola goyah, bahkan berantakan. ‘Pepsi Challenge’ bergema di seantero jagat. Angka penjualannya merangkak nik dan merangsek sang pemimpin pasar. Blind test untuk membandingkan rasa di berbagai tempat menegaskan keunggulan Pepsi. Dan John Sculley, sang nakhoda, digelari ‘the best and the brightest man in the industry’. Pendeknya, Sculley sedang berada di puncak kejayaannya bersama Pepsi.
                Dalam kondisi seperti itu, tentu ia hanya tersenyum ketika Steve Jobs, CEO Apple Inc., berkata padanya, “Maukah Anda bergabung dengan Apple?” pertanyaan nekat! Sculley sedang di puncak kejayaannya bersama Pepsi sedangkan Apple –dengan aset maupun omset yang jauh lebih kecil daripada Pepsi ketika itu- baru saja dirundung masalah keuangan hingga nyaris bangkrut.
                Umumnya orang yang disodori tawaran gila ini tentunya akan berkata, “Memangnya, berapa Anda berani bayar saya?” Atau, “Posisi apa yang Anda tawarkan pada saya, yang lebih dari apa yang saya nikmati sekarang?” Dan Steve Jobs sudah siap menjawab pertanyaan macam itu jika ia keluar dari mulut Sculley. Kalimat jawaban itu membuat Sculley tersentak. “Anda mau jualan air gula seumur hidup, atau –kalau Anda mau- mengubah dunia?!!”

               
 John Sculley, sang brilian, tertohok ulu hati kebanggaannya. Ia terpanah tepat di ruang yang paling menggairahkan baginya: tantangan. Steve Jobs’ Challenge ternyata dahsyat. Lebih dahsyat dari Pepsi Challenge yang digulirkannya. Dan materi; uang, gaji, posisi, takluk di sini. Passion John Sculley bukan pada itu semua. Tapi tantangan. Dan mengubah dunia adalah tantangan terbesar yang ditawarkan padanya. Setelah sejenak mempelajari Apple Inc. dan Steve Jobs, ia percaya bahwa komputer dan teknologi informasi memang akan mengubah dunia. Ia pindah ke Apple.



===================================oOo===============================

Kita semua memiliki kemampuan yang mengagumkan untuk merenda mimpi, merajut cita-cita, dan menyusun rencana. Namun semua kemampuan itu tidak pernah lebih kuat daripada kemampuan kita untuk menunda. Maka setelah visi, kita memang seharusnya bergairah. Pertanyaan selanjutnya, pada apakah kita bergairah? Mari kita mengukurnya dengan sederhana. Pada satu bidang saja.