Label

Selasa, 23 September 2014

Planet of the Deep Blue Sea

Hari ini, tanggal 23 September 1846 Planet Neptunus ditemukan.
Planet ini merupakan planet pertama yang ditemukan melalui
prediksi matematika. Perubahan yang tak terduga di orbit
Uranus membuat Alexis Bouvard menyimpulkan bahwa hal
tersebut diakibatkan oleh gangguan gravitasi dari planet yang
tak dikenal. Neptunus selanjutnya diamati oleh Johann Galle
dalam posisi yang diprediksikan oleh Urbain Le Verrier. Satelit
alam terbesarnya, Triton , ditemukan segera sesudahnya,
sementara 12 satelit alam lainnya baru ditemukan lewat
teleskop pada abad ke-20. Neptunus telah dikunjungi oleh
satu wahana angkasa, yaitu Voyager 2 , yang terbang
melewati planet tersebut pada tanggal 25 Agustus 1989.


Meskipun Galileo (ilmuan Italia) merupakan seorang
astronomer terkenal namun sejarah telah mencatat bahwa
jika bukan dikarenakan beberapa hari-hari mendung di Italia
maka Galileo merupakan penemu Neptunus. Di tahun 1613,
sebenarnya galileo mengamati objek menarik berada di
dekat planet Jupiter hanya saja ia tidak mengira planet
tersebut adalah Neptunus melainkan Galileo menganggap
objek tersebut hanyalah bintang biasa. Jika saja bukan
dikarenakan langit mendung Florentine maka Neptunus pasti
berada dalam jangkauan Galileo.

Fakta tentang planet neptunus:

1.  Warna biru indah planet ini diyakini merupakan hasil dari campuran warna merah di athmosfernya planet Neptunus dengan unsur lainnya. Selain itu warna biru ini ini juga merupakan campuran dari helium, hidrogen, dan methane.
Campuran basah partikel-partikel air dan es juga membuat planet Neptunus ini mempunyai reputasi sebagai planet biru.

2.  Neptunus memiliki bintik hitam mirip Great Red Spot di Jupiter.
Ini adalah daerah tekanan atmosfer tinggi yang memaksa awan gas metana tinggi ke atmosfer muncul seperti cirrus (tipis, whispy) awan di Bumi. Namun, tempat ini menghilang dan muncul kembali pada bagian yang berbeda dari planet ini, tidak seperti tempat Jupiter.

3.  Jaraknya nun jauh dari matahari membuat neptunus tidak mendapatkan kehangatan dan kemampuan untuk mendukung kehidupan apapun untuk eksis. Suhu terdingin diukur dalam Tata Surya (-237,6 ° C) telah dicatat di bulan Neptunus, Triton.

4.  Neptunus memiliki empat cincin.
Terdapat cincin yang lebih terang daripada cincin lain dan tampak seperti busur yang mengorbit planet ini. Mungkin mereka masih dalam proses pembentukan.

5.  Pada tahun 1989 telah terjadi badai besar di permukaan planet Neptunus menghasilkan angin dengan kecepatan mencapai 2.400 km/jam.
Badai dengan ukuran sebesar bumi tersebut keluar dari athmosfer planet
Neptunus dengan kecepatan sekitar 1.100 km/jam. Tidak “ayal” lagi peristiwa ini menyita perhatian para astronomer dan para ilmuan NASA ketika melihatnya pertama kali dengan teleskop Hubble.

6.  Triton meng-orbit Neptunus dalam arah yang berlawanan dengan rotasi planet . Ini adalah bulan terbesar di Tata Surya yang melakukan hal ini.
Para astronomer percaya Triton pada akhirnya akan hancur oleh Neptunus dalam satu juta tahun dari sekarang dikarenakan gaya magnet Neptunus untuk terus menarik Triton mendekat.
Ketika Triton berada dalam jangkauan gravitasi Neptunus maka saat itu merupakan hari terakhir dari eksistensi Triton. Sampai hari terakhir bagi Triton itu datang maka Triton akan terus setia dengan putaran uniknya terhadap Neptunus.
Meskipun Triton merupakan objek langit terdingin dalam tata surya kita namun tidak ada yang menginginkan nasib buruk tersebut mengakhiri eksistensi Triton.

Ringan saja

Hidup ini bagai kereta api aliran ringan (LRT),
kita akan naik LRT untuk pergi ke satu destinasi.

Semasa perjalanan itu akan ada penumpang yang turun dan ada pula penumpang baru yang naik di setiap perhentian.

Bila ada penumpang turun kita tidak akan rasa sedih,
karena itu memang destinasi mereka.
Kita tetap akan meneruskan perjalanan kita sampai ke destinasi yang dituju.

Begitulah kehidupan.

Rabu, 20 Agustus 2014

ghazwul fikri

bu Guru berjilbab rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya.Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, saya punya 2 permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru berhenti sebentar lalu kembali berkata,"baik sekarang perhatikan". Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu dan  terpengaruh. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."

"Merasa selalu benar, keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik bahkan  dengan non muslim, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, berbuat dosa menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Kalian dibawa menjauh dari meneladani SIKAP dan AKHLAK Rasulullah. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Ibu ada Qur'an, ibu akan meletakkannya di tengah karpet.Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah: bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya.
Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan.
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah.
Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka.
Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.
Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat.
Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu.
Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian.
Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian.

Mulai dari perangai, cara hidup, adab, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran).
Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.

Alllah berfirman dalam At Taubah 32:yuriiduuna an yuthfi-uu nuurallaahi bi-afwaahihim waya/baallaahu illaa an yutimma nuurahu walaw kariha lkaafiruunMereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Maka tampak dari luar masih Muslim.
Maka rasakan dan pikirkanlah itu dan ingatlah bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, ingatlah akan Hari Pengadilan.

WaLlahu a'lamu bishshawab.
“Sebaik – baik perkataan itu ialah yang sedikit tapi memberikan kejelasan”
“Perhatikanlah apa – apa yang dikatakan dan janganlah memperhatikan siapa yang mengatakan” (Mutiara Islami)“Kata – kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras” (Hamka)
Diambil dari: eramuslim H.Muh.Nur Abdurrahman Kolom Tetap Harian Fajar, dengan judul ‘Permainan Ibu Guru' dari milist Faktual

Sabtu, 19 Juli 2014

“Kami tidak meminta kalian berjihad bersama kami mengangkat senjata. Sebab siap siaga untuk mempertahankan tanah suci umat Islam. Kami hanya meminta doa kalian. Karena doa senjata paling hebat yang tidak dimiliki kaum kafir. Tolong sebarkan kepada umat Islam di seluruh dunia, kami saat ini terkepung. Jika ingin membantu, bantulah sesuai kemampuan kalian. Jika menyebarkan informasi saja tidak mampu kalian lakukan, apakah kalian siap diminta pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat?”

— [Ismail Haniya]


Nature's Secrets



"...nature shares her secrets only with the blind..."

Kamis, 05 Juni 2014

Bulan Apit


Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan.
‘Aisyah berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ  “
Tak kulihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan Sya’ban (HR Al Bukhari & Muslim)

Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari ‘Aisyah: “Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya selain bulan Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” Maksud hadits: beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan Sya‘ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian.

Sya‘ban: Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu.’ Demikian keterangan Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213. Maka berpuasa di bulan Sya‘ban adalah utama, karena:
Amal-’amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.

Sya‘ban ialah bulan yang disepelekan; beramal & menghidupkan syi’ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.

Selain kedua hal itu, puasa di bulan Sya‘ban juga dimaknai sebagai:
Penyambutan & pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadhan.
Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya;
Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu’, dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat.

Hikmah lain: puasa di bulan Sya‘ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya & waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga.
Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: puasa Sya‘ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan.Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba’diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa Sya‘ban & ba’diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal. Keutamaan Sya‘ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244.

Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya’ban?

Hadits-hadits terkait Nishfu ya‘ban ini sebagian dikategorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu’ (palsu). Khususnya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah & bilangan pahala atau balasan tertentu.
Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu Sya‘ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.

“Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu Sya‘ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya.” HR Ibnu Majah (1390).

Dalam Zawa’id-nya, riwayat ini dinyatakan dha’if karena adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir (215). Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “Shahih dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung).”  Al-Albani juga menilai hadits Nishfu Sya‘ban ini shahih {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)}.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291).

Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi’in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan & Luqman bin Amir yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu Sya‘ban. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah!”
‘Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza’i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat & berdoa bersama di Nishfu Sya‘ban. Tetapi beliau -& ‘ulama yang lain- menyetujui keutamaan shalat, baca Al Quran dll pada Nishfu Sya‘ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha’iful Ma’arif, 151) & Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292). Adapun ‘ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, & para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu Sya‘ban sebagai bid’ah.
Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain & puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik.

Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami & tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala ‘amal ibadah utama pada bulan Sya‘ban.

Bulan Sya‘ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. ‘Aisyah berkata:
                         كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ ، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ. 

Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan #Sya‘ban, karena sibuk melayani Nabi. (HR Al Bukhari-Muslim). Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) & Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits ‘Aisyah ini disimpulkan: Jika ada ‘udzur, maka qadha’ puasa bisa diakhirkan sampai bulan Sya‘ban. Tanpa ‘udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama.

Bagaimana jika lalai; tanpa ‘udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur ‘ulama berpendapat:
Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu & harus bertekad untuk segera meng-qadha’-nya setelah Ramadhan ini.
Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian ‘ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha’ makanan pokok (lk 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun ini.
Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya & dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya.
Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189).
Jika masuk bulan Sya‘ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan.

Sehari atau 2 hari terakhir Sya‘ban dinamakan sebagai Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan sudah masuk Ramadhan/belum.
Nabi bersabda:
لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” {HR Al Bukhari & Muslim}.

Maknanya; terlarang untuk mengkhususkan diri berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha’, dll) dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha’iful Ma’arif 151)

Sumber: Kultwit ust @salimafillah #sya’ban yang dirangkumkan oleh sobat yandrimahaldyz di yandrimahaldyz.wordpress.coms

Minggu, 18 Mei 2014

Mencari Pintu

“Sesungguhnya Allah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi rezeki. Terkadang seseorang dibukakan pintu kebaikan untuk memperbanyak shalat, tetapi ia tidak dibukakan pintu untuk rajin berpuasa. Ada pula yang dibukakan pintu kebaikan untuk banyak bersedekah, tetapi tidak dibukakan pintu hatinya untuk rajin berpuasa. Dan ada pula orang yang dibukakan pintu kebaikan untuk berjihad, sedangkan yang lain tidak. Semoga masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan.” (Imam Malik)

Jika kekurangan harta membuat kita tidak mampu beramal dari pintu sedekah, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat menambah amalan shalih kita.
Jika tubuh yang lemah membuat kita tidak mampu beramal dari pintu puasa, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah.
Jika ayah dan ibu kita telah tiada sehingga kita tidak mampu beramal shalih dari pintu berbakti kepada orang tua, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat memberatkan timbangan amal kebaikan kita.
Jika kondisi kita belum memungkinkan untuk beramal shalih dari pintu jihad, maka carilah pintu kebaikan lain yang dapat menghantarkan kita menuju kesyahidan di jalan-Nya.
"Semoga masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan."