Label

Minggu, 18 Agustus 2013

Seakan-akan aku melihat ramadhan..., lalu kusapa ia, "Hendak kemana dikau?"

Dengan lembut ia seakan-akan berkata, "Aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk setiap muslim : Sesungguhnya syawaal telah tiba, salam dan terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita. Aku tidak tahu apakah tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi atau tidak??.

Jika tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi maka aku berharap ia bisa menyambutku dengan lebih baik lagi, dengan penuh tilawah dan sholat malam.

Aku sangat sedih jika mengingat penyambutannya yang kurang berkenan di hatiku. masih terlalu banyak canda, perkataan yang sia-sia serta waktu-waktu yang terbuang tanpa arti...
padahal ia tahu bahwa jika ia menyambutku dengan baik maka tentu aku akan menyambutnya dengan lebih baik lagi kelak di pintu Ar-Royyaan....

Akan tetapi semua sudah berlalu dan sudah terlanjur.
Semoga setetes air mata yang pernah berlinang dari kedua matanya karena takut tidak bisa menyambutku dengan baik akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya.

Sampaikan pula kepadanya bahwa bukanlah lebaran yang hakiki adalah dengan hanya memakai baju baru, akan tetapi lebaran yang hakiki adalah bergembira dengan keimanan dan semangat baru dalam beribadah. Janganlah sepeninggalku ia terjerumus kembali kepada kemaksiatan-kemaksiatan...
ingatlah sesungguhnya Tuhan yang ia sembah tatkala ia menjamu kedatanganku...Dialah Tuhan yang juga ia sembah tatkala aku pergi....

Demikianlah pesanku kepadanya, sampaikan salamku kepadanya, semoga ia masih tetap terus merindukan kedatanganku di tahun-tahun mendatang.... sampai ketemu di pintu Ar-Royyaaan...."

@Ustdz. Firanda Andirja

Jumat, 26 Juli 2013

Ketika behadapan dengan anak kecil, sulit untuk membuat nya mengerti.
Ketika berhadapan dengan orang dewasa, mereka sulit  dimengerti.
Pun ketika berhadapan dengan orangtua, seperti berhadapan dengan anak kecil, sulit membuat mereka mengerti.
Bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena berbeda pengertian.

Aku semakin tidak mengerti,
sepertinya hidup ini terlalu singkat untuk membuat orang lain mengerti.

Minggu, 14 Juli 2013

Layang ku

Sesekali ingin ku coba menulis harapan di layang layang
Ku tulis di kertasnya yang tipis
Benangnya akan kupegang erat
Lalu disaat ku siap, kulepaskan dengan senang hati
Biarlah layangan harap dan doaku pergi
Meninggi
...disitu tertulis juga pesan, aku merindu mu

Kamis, 20 Juni 2013

d i a m





Kapan kau berhenti jadi fatamorgana? kenapa kau tak mewuj6d saja. Hingga nyata. Keluar dari cakrawala.

Jawaban semua kapan adalah waktu.
Ku buka koleksi arloji di laci kepala, kubenahi satu peesatu,
mungkin ada yang salah, pada semua detikku.

Aku pergi, kau  diam.
Kau melangkah mundur, aku mendekat.
Kau maju, aku sembunyi.
Bisakah kita saling diam sebentar?
Sejenak saja.

Lebih baik aku berteman dengan ribuan teriakan dari jutaan jendela,
dibanding bersembunyi dalam ruang hampa tak berpintu.

Ketika malam jatuh ke mataku,
ada keheningan yang menjadi saksi,
bahwa dalam diam aku masih mendoakanmu.
Dan dalam diam, ada seseorang juga yang mendoakanmu.



Senin, 10 Juni 2013

Muhasabah

Kuperhatikan ahli ibadah, ia lelah dan menangis
Tapi rasa nikmat dan pancaran ketenangannya tak habis-habis.

Lalu kuperhatikan diriku ini
berburu senang dalam dosa mencari tawa dalam sia
Tapi pedih dan gelisah yang terasa

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu masih mengandalkan makhluk- membanggakan ilmu- dan bertawakkal pada diri?


"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu mengabaikan perintah Nya - mempertanyakan aturan Nya - meragukan hukum Nya

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu merasa aman mendurhakai Nya - tenang saja bermaksiat - dan menikmati dosa-dosa

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu patah arang dalam susah - putus asa pada taqdir - menyerah kala diuji

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu penuh buruk sangka - membanding-bandingkan anugerah - dan meremehkan karunia

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Sungguh ibadahmu tak cukup membayar rizqi-Nya
dan usahamu pun tak sebanding karunia Nya

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Merasa doamu tak dijawab padahal berlimpah yang diberikan Nya tanpa kau minta

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu takut menyampaikan yang benar dan mencari ridho manusia dengan murka Nya

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu dunia lebih kau pentingkandari akhirat - 
yang fana kau utamakan  dari keabadian

"Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? 71:13
Lalu harta terlihat kemilau - tahta tampak megah - dan hidup melalaikanmu dari hisab Nya




Rabu, 03 April 2013

I can see the first leaf falling
It's all yellow and nice
It's so very cold outside
Like the way I'm feeling inside

I'm a big-big girl in a big-big world
It's not a big-big thing if you leave me
But I do feel I will miss you much
Miss you much.

dunia


kenapa kita sangat mencintai dan terikat kepada dunia ini padahal kita akan segera meninggalkannya dalam beberapa puluh tahun kedepan?

Jawabannya mudah, namun sebenarnya bukan jawaban itu yang menjadi inti renungan yang ingin saya ketengahkan malam ini.

Mari kita sejenak ajak jiwa kita kembali kemasa lalu, saat kita masih sering tertawa daripada merenungi masalah-masalah. saat kita masih bebas dan tidak terikat banyak belenggu yang menjerat kaki kita. saat itu kita mencintai ayah atau ibu kita, bahkan hingga saat ini ada yang masih menjaga cinta itu. Kemudian ketika kita beranjak remaja, cinta itu mulai berpindah, kita lebih mencintai seseorang yang mengerti perasaan kita. kita lebih mencintai seseorang yang benar-benar menjawab cinta kita.

Kenapa? Karena saat itu kita mulai memiliki 'kebutuhan' yang tidak bisa dipenuhi orang tua kita. yaitu syahwat. Jadi kita lebih mencintai 'pacar' atau seseorang yang kita 'kagumi', meskipun hal itu salah. Ketika kita beranjak dewasa, kita hampir benar-benar melupakan cinta kita kepada orang tua yang melahirkan kita, kenapa?

Karena kita menemukan kebutuhan yang mencekik kita, istri, anak dan banyak obsesi yang tidak bisa dipenuhi oleh orang tua kita. dan memang, tugas orang tua kita disana selesai. Kita telah bebas menentukan pilihan.

Cinta kepada orang tua dulu muncul karena mereka selalu memenuhi kebutuhan kita, namun ketika mereka tidak lagi memenuhi kebutuhan mereka dan kita tidak bergantung kepada mereka kemudian hati kita berpaling. ini tentu dirasakan kebanyakan orang, dan saya sangat yakin. Padahal tanpa orang tua, kita tidak akan ada. Pertanyaannya adalah, siapakah yang menciptakan orang tua dari orang tua kita dari orang tuanya lagi?

Siapakah yang memenuhi, menjaga dan menghidupkan orang tua dari orang tua kita dari orang tuanya lagi?

Jawabannya adalah Allah. Lalu kenapa kita tidak mencintai Allah dalam hati kita? Karena kita tidak menyadari bahwa Allah lah yang memenuhi kebutuhan kita.
Apakah benar demikian? Tidak perlu banyak energi untuk menjawabnya, baik itu menolak atau menerimanya. Ada saatnya kita jatuh sejatuh-jatuhnya, saat itu tak ada satu mata pun memandang kita haru. kita sangat sendiri dan banyak tamu yang berdatangan ke hati kita dan kita tidka bisa menolaknya; sedih, takut, putus asa bahkan kadang benci dengan kehidupan ini.



Benci kepada kehidupan ini artinya benci kepada penciptanya. Padahal Allah azza wa jalla menatapi semua mahluk ciptaan-Nya dengan senyum kerahmatan. Namun kita bahkan lupa, bahwa diatas sana masih ada satu senyum?

Sampai kepada kesimpulan pertama bahwa kita mengakui, bahwa kita tidak mencintai Allah saat kita mengeluhkan sesuatu tentang kehidupan ini. Kenapa? Karena kita tidak menyadari bahwa Allah telah memberi banyak hal untuk kita, padahal Allah lah penyebab kita masih hidup hingga saat ini untuk merasakan manisnya Iman dan lezatnya Islam.